FILSAFAT

FILSAFAT PRAGMATISME
BAB I
PENDAHULUAN
Pada Akhir abad XIX atau memasuki abad XX di Amerika berkembang sebuah aliran filsafat yang begitu besar dampaknya bagi perkembangan negara tersebut salah satunya di bidang pendidikan yang disebut pragmatisme. Tokoh pragmatisme pertama adalah  Charles S. Peirce (1839-1934), Willam James (1842-1910), dan John Dewey (1859-1952).
Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi diterimanya asal bermanfaat.
Pada makalah ini berisi pengertian epistemologi pragmatisme, siapa saja tokoh dalam pragmatisme ini, dan bagaimana teori kebenaran dari pragmatisme.




BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian
Epistemologi berasal dari kata Yunani episteme yang berarti ‘pengetahuan’, ‘pengetahuan yang benar’, ‘pengetahuan ilmiah’, dan logos berarti teori. Dengan demikian, secara bahasa, epistemologi dapat diartikan sebagai teori ilmu pengetahuan. Sebagai cabang filsafat, epistemologi menyelidiki asal, sifat, metode, dan bahasan pengetahuan manusia. Epistemologi juga disebut sebagai teori pengetahuan. Epistemologi sebagai teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Sebab ilmu pengetahuan didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode ilmiah.[1]
Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasar serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.[2] Disebut filsafat ilmu pengetahuan karena menyelidiki tentang hakikat pengetahuan. Darimana asal atau sumber pengetahuan dan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan.[3]
Pragmatisme berasal dari kata ‘pragma’ (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.[4] Pragmatisme merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang fungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. Pragmatisme berusaha menguji kebenaran-kebenaran ide-ide melalui konsekuensi-konsekuensi daripada praktik-praktik ataupelaksanaannya. Artinya ide-ide itu belum dikatakan benar atau salah sebelum diuji.[5]
Dapat disimpulkan epistemologi pragmatisme adalah teori ilmu pengetahuan yang mendasarkan diri pada kriteria tentang fungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi manusia.
Aliran filsafat ini lahir di Amerika Serikat akhir abad ke-19 menekankan pentingnya akal budi (rasio) sebagai pemecahan masalah (problem solving) dalam kehidupan manusia baik masalah yang bersifat teoretis maupun praktis. Tokoh pragmatisme awal adalah Charles Sander Pierce (1839-1914), William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).[6]Meskipun ketiga tokoh tersebut dimasukkan dalam kelompok aliran pragmatisme, namun diantara ketiganya memiliki fokus pembahasan yang berbeda. Charles S. Pierce sebagai penggagas pragmatisme, lebih dekat disebut filosof ilmu, sedangkan William James sebagai pengembang pragmatisme, disebut filosof agama dan John Dewey sebagai orang yang menerapkan pragmatisme dalam pelbagai bidang kehidupan dikelompokkan pada filosof sosial.[7]
2.      Tokoh Pragmatisme
Tokoh-tokoh pragmatisme ini pada umumnya berasal dari Amerika seperti Herbert Mead, Wilhem Dilthey, Charles Sander Pierce, John Dewey dan Richard Rorty.[8] Yang populer adalah Charles Sander Pierce, John Dewey, dan William James.
Pemikiran tokoh pragmatisme dipengaruhi oleh filsafat Yunani Heracleitos, Socrates, Aristoteles, serta gagasan kaum rasionalis dan empiris modern, terutama Immanuel Kant. Istilah pragmatisme itu sendiri dipinjam Pierce dari Kant (dari istilah practical reason) yang ia kemukakan melaui artikelnya yang terkenal, yakni “How to make our ideas clear” (1878). Karena pengaruh Kant yang begitu kuat pada pemikiran kaum pragmatisme ini, maka pragmatisme disebut juga sebagai Kantian. Dalam artikel ini Pierce mengemukakan betapa perlunya keyakinan-keyakinan untuk disatukan dengan tindakan. Misalnya, seorang dokter yang mengobati pasien memiliki keayakinan tertentu tentang penyakit pasien, setelah itu baru ia memberikan obat untuk penyembuhan. Jadi perlu keyakinan dan pertimbangan teoretis yang dipadukan dengan praktis (tindakan). Dalam pandangan Pierce, konsepsi itu benar jika memiliki arti dan dampak positif. Karena itu, menurut Pierce, perlu untuk memadukan antara pemikiran filsafat (yang cenderung rasional-spekulatif) dengan ilmu pengetahuan (empiris-eksperimental). Cara berfikir Pierce ini seperti epistemologi Kant yang mencoba menggabungkan rasionalisme dengan empirisme menjadi kritisme epistemologis.[9]
a.       Charles_Sanders_Peirce.jpgCharles Sander Pierce (1839-1914)

Charles Sander Pierce lahir di Cambridge, Massachussetts, 10 September 1839 dan meninggal di Milford, Pennsylvania, 19 April 1914. Ia merupakan anak kedua dari Benjamin Pierce dan Sarah Pierce.
Keahliannya di bidang ilmu pengetahuan tidak hanya terbatas pada diskursus geologi, kimia dan fisika, tetapi juga termasuk apresiasi prosedur yang digunakan oleh para pendahulu yang sukses dalam meningkatkan pengetahuan. Sebelum masuk ke Harvard, pada usia 16 tahun, Pierce sudah melakukan training di laboratorium kimia selama sepuluh tahun, dan telah membaca logika Whitely. Pendidikannya di Harvard dikonsentrasikan pada filsafat dan ilmu-ilmu fisika.[10]
Pierce dalam epistemologi pragmatisme-nya berusaha memadukan empirisisme dan rasionalisme dengan menyempurnakannya melalui konsep-konsep semiotiknya.[11]Semiotik adalah ilmu yang mempelajari komunikasi melalui lambang-lambang/tanda-tanda.
Semiotik, muncul melalui perkembangan  logika penelitian/ilmiahnya, terus berkembang menjadi teori makna, hakikat keyakinan hingga akhirnya sampai pada teori ‘fallibilism’. Fallibilism adalah suatu pendapat bahwa setiap manusia dapat berbuat kekeliruan atau kesalahan, sekalipun ia seorang yang sangat pandai”. Falibilism dalam teori Peirce masuk ke dalam teori metode ilmiah. Ia merupakan karakteristik mental Peirce sebagai individu. Ia menawarkan fallibilism sebagai salah satu dari sumber filsafatnya. Objek ilmu pengetahuan apa saja dapat difalsifikasi, sedangkan karakter ilmu pengetahuan, baik realitas maupun yang berubah, dari sini ilmuan menjalani karyanya dengan semangat dan harapan. Tetapi realitas itu di luar akal, tidak bergantung pada aktivitas akal. Adapun subjek menuju berbagai kemungkinan. Oleh karena itu, peneliti tidak pernah mencapai kepastian yang mutlak.[12]
Akal yang semula menjadi modal dasar terus dilatih dan dikembangkan melalui aturan-aturan berfikir yang benar sehingga memiliki banyak bentuk dan warna, semua dibangun di atas logika semiotik. Logika ilmiah Pierce, terbagi menjadi tiga, yaitu Speculative Grammar, Critical Logik, dan Speculatif Retoric. Hal ini merupakan usaha Pierce dalam merumuskan metode ilmiah. Salah satu bagian yang ia tonjolkan adalah critical logic, yaitu induksi, deduksi, dan abduksi. Abduksi inilah yang terus ia pertahankan dan dipandang sebagai metode penelitian andalannya.Speculative Grammar menjelaskan hubungan antara sign dan simbol yang memiliki tiga elemen, yaitu sign, objek dan interpretant (penafsir). Speculative Retoric merupakan persyaratan umum yang menunjukkan simbol-simbol abstrak bagi penafsir.[13] Abduksi adalah model penalaran di mana penalaran dilakukan dari sebuah fakta ke aksi atau kondisi yang mengakibatkan fakta tersebut terjadi. [14]
Epistemologi Pierce merupakan kerja serius mengenai peran bahasa (sign, simbol) secara umum dalam pengalaman manusia dan perlu bagi pengembangan pandangan dunia secara umum dalam segi utama realitas yang skematis dan perbedaan prinsipil di antara model-model wujud. Bagi Pierce, metodenya yang utama telah melakukan klarifikasi makna konsep-konsep dengan cara mengokohkan keyakinan yang kuat dalam masalah penelitian ilmiah. Ia memusatkan perhatiannya pada minat kognitif manusia, perhatiannya dalam mencapai pengetahuan yang dapat dipercaya dalam menentukan kebenaran.
b.      William James (1842-1910)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0cgkXzPSPMXiHKFcmJ-RyQPZW5031AfkpxlyHih11ZpURVqrAvcOLpUpNKjVtANz50ItoJKgW9HE_rokJiuNvO14cEFjKVEXd1j_6b_wjxCval7PW9FMrWUJDHw8-U1a2wR4-O0OqIn8/s200/WILLIAM+JAMES.GIF
William James lahir di New York City pada tahun 1842, putra dari Henry James, Sr. Pada tahun 1864 masuk Harvard Medical School dan memperoleh M.D-nya pada tahun 1869. Akan tetapi ia kurang tertarik pada praktik pengobatan, ia lebih menyenangi fungsi alat-alat tubuh. Oleh karena itu, ia kemudian mengajarkan anatomi dan fisiologi di Harvard.
Tahun 1875 perhatiannya lebih tertarik pada psikologi dan fungsi fikiran manusia. Pada waktu itu, ia menggabungkan diri dengan Pierce, Chaucy Wright, Oliver Wondel Holmes, Jr, dan lain-lain tokoh dalam Metaphysical Club untuk berdiskusi dalam masalah-masalah filsafat dengan topik-topik metode ilmiah agama dan evolusi. Di sinilah, ia mula-mula mendapat pengaruh Pierce dalam metode pragmatisme.
Pandangan filsafatnya, di antaranya menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal. Sebab, pengalam kita berjala terus dan segala yamg kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam praktik, apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.
Pragmatisme, menurut pendapatnya, memberikan suatu jalan untuk membicarakan filsafat dengan melalui pemecahan lewat pengalaman indera. Bahwa yang baik adalah yang dapat dilaksanakan dan dipraktekkan, mendatangkan yang positif dan kemajuan hidup. Karena itu, baik-buruknya perilaku dan cara hidup dinilai atas dasar praktisnya, akibat tampaknya, dampak positifnya, manfaat bagi orang yang bersangkutan.[15]
Mengenai Willian James dikenal sebagai filosof agama adalah gagasannya adannya Tuhan dan kepercayaan terhadap agama.GagasanmengenaiadanyaTuhan dan kepercayaanterhadapagamamerupakangagasan yang benarjikamemilikiefek-efekpraktis. Tindakanmanusialah yang akan membuktikanapakahkeyakinannyaterhadapTuhanmerupakansuatukebenaran. Dalamhalini, keyakinankitakepadaTuhan dan agamamemangdiperlukan, karenadengankeyakinantersebutmanusia akan memilikiketenangandalammenghadapikehidupannya. Dengan ketenangan itulah ia akan bisa melakukan tindakan-tindakan yang berguna dengan cara yang “benar”. Doktrin-doktrin agama benar, jika perbuatan para penganutnya sesuai dengan doktrin tersebut dan terarah pada suatu kesuksesan dalam bertindak.[16]
c.       John Dewey (1859-1952)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOajyc9xsKDhUkxfTrsDGMt0PIZ8SGFQe6THHH5rEXs2xoKmhSe8Jb_dhliCITge1UkEpUY6YImpPHIJ8TiKcQg2qw9V0l5-MQhrBUuCuDdlRvLVlgQcATd0vCTdYnENPyEkflb9X4qwTX/s200/dewey.gif
John Dewey adalah seorang filsuf dari Amerika, pendidik dan pengkritik sosial yang lahir di Burlington, Vermont dalam tahun 1859. Dewey kecil adalah seorang yang gemar membaca namun tidak menjadi siswa yang brilian di antara teman-temannya ketika itu. Ia masuk ke Universitas Vermont dalam tahun 1875 dan mendapatkan gelar B.A.
Ia kemudian melanjutkan kuliahnya di Universitas Jons Hopkins, di mana dalam tahun 1884 ia meraih gelar doktornya dalam bidang filsafat di universitas tersebut. Di universitas terakhir ini, Dewey pernah mengikuti kuliah logika dari Pierce, orang yang menggagas munculnya pragmatisme. Dari tahun 1884 samai 1888, Dewey mengajar pada Universitas Michigan dalam bidang filsafat. Tahun 1889 ia pindah ke Universitas Minnesota. Akan tetapi pada akhir tahun yang sama, ia pindah ke Universitas Michigan dan menjadi kepala bidang filsafat. Tugas ini dijalankan sampai tahun 1894, ketika ia pindah ke Universitas Chicago yang membawa banyak pengaruh pada pandangan-pandangannya tentang pendidikan sekolah di kemudian hari. Ia menjabat sebagai pemimpin departemen filsafat dari tahun 1894-1904 di universitas ini. Ia kemudian mendirikan Laboratory School yang kelak dikenal dengan nama The Dewey School. Di pusat penelitian ini ia pun memulai penelitiannya mengenai pendidikan di sekolah-sekolah dan mencoba menerapkan teori pendidikannya dalam praksis sekolah-sekolah. Hasilnya, ia meninggalkan pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar dan menghafal. Sebagai ganti, ia menekankan pentingnya kreativitas dan keterlibatan murid dalam diskusi dan pemecahan masalah.[17]
Konsep kunci dalam filsafat Dewey adalah pengalaman. Melalui pengalaman ini manusia memperoleh pengetahuan dan berikhtiar (berusaha). Pengalaman bukan sesuatu yang baku, tetapi selalu berubah-ubah. Oleh karena itu, pengetahuan yang dimiliki seharusnya dicoba berkali-kali, ditinjau dan terus-menerus menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan baru.[18]
John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya. Oleh karena itu, filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis.[19] Mengingat metode ilmiah adalah cara atau alat penataan pengalaman, maka bagi Dewey, filsafat dan ilmu pengetahuan dianggap sebagai instrumen yang dapat digunakan untuk menata pengalaman, sedangkan teori dianggap sebagai alat untuk bertindak dengan mempertimbangkan berbagai konsekuensinya bagi masa depan.[20]
Menurutnya, tak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berfikir untuk mengatasi kesulitan itu. Oleh karena itu, berfikir merupakan alat (instrumen) untuk bertindak. Kebenaran dari pengertian dapat ditinjau dari berhasil-tidaknya memengaruhi kenyataan. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metode induktif. Metode ini tidak hanya berlaku bagi ilmu pengetahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan sosial dan moral.[21]
Pendapat John Dewey mengenai ilmu pengetahuan, berkembang dengan pesatnya melalui percobaan. Jadi dengan cara induksi. Landasan berfikir seperti ini diterapkan John Dewey dalam dunia pendidikan dengan mendirikan sekolah kerja. Di sekolahnya, ia menerapkan cita-citanya itu dengan menggunakan metode masalah atau metode proyek (problem solving).[22]
3.      Teori kebenaran Pragmatisme
Benar atau tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat dan akan dikatakan salah jika tidak mendatangkan manfaat. Suatu kebenaran dan suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan sehari-hari adalah benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan, apabila ia berlaku dalam praktik, apabila ia mempunyai nilai praktis. Kebenaran terbukti oleh kegunaanya, oleh hasilnya, dan oleh akibat-akibat praktisnya. Jadi kebenaran ialah apa saja yang berlaku(works).[23] Sebagaimana rumusan William James tentang teori kebenaran adalah “something is true if it works”.[24]
Kebenaran menurut William James bersifat sementara. Pernyataan dianggap benar selama fungsional dan mempunyai keguanaan. Bila terjadi perkembangan ilmu yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu ditinggalkan. [25]
Pragmatisme berpandangan bahwa subtansi kebenaran adalah jika segala sesuatu memiliki fungsi dan manfaat bagi kehidupan. Misalnya, beragama sebagai kebenaran, jika agama memberikan kebahagiaan; menjadi dosen adalah kebenaran jika memperoleh kenikmatan intelektual, mendapatkan gaji atau apapun yang bernilai kuantitatif dan kualilatif. Sebaliknya jika memberikan kemudharatan, tindakan yang dimaksud bukan kebenaran.[26] Atau menetapkan suatu konsep atau alur pemikiran, maka harus meneliti benar-salahnya konsep tersebut dengan memeriksa konsekuensinya dalam alam kehidupan dan pengalaman sewajarnya.[27]
Kebenaran menurut teori pragmatisme bermula dari keyakinan, yaitu sikap yang pasti berdasarkan pengetahuannya mengenai suatu objek. Lalu sikap ini harus dilaksanakan secara konsekuen dan konsisten, yaitu berupa langkah-langkah yang saling berhubungan dalam satu sistem. Langkah pertama berguna (utilized) dan dapat dikerjakan (workable) bagi langkah-langkah selanjutnya.[28]
Pandangan Peirce tentang kebenaran adalah memahami adanya tiga sifat dasar yang ada keyakinan; pertama adanya proporsisi, kedua adanya penilaian, dan ketiga kebiasaan dalam pikiran. Untuk mencapai sebuah keyakinan akan sesuatu, minimal harus ada tiga sifat dasar di atas. Pada gilirannya, keyakinan akan menghasilkan kebiasaan dalam pikiran (habit of mind). Berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan dalam pikiran yang dihasilkan. Dari situ, Peirce kebudian membedakan antara keraguan (doubt) dan keyakinan (belief). Orang yang yakin pasti berbeda dengan orang yang ragu minimal dari dua hal: feeling and behaviour. Orang yang ragu selalu merasa tidak nyaman dan akan berupaya untuk menghilangkan keraguan itu untuk menemukan keyakinan yang benar.[29]
Kata kunci dalam konsep pragmatisme adalah workability (keberhasilan), satisfactory (kepuasan) dan result (hasil).[30]
Rorty, sebagai seorang tokoh pragmatisme, juga menekankan sifat pragmatis atau kemanfaatan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, teori bukan lagi dilihat dalam hubungannya dengan kebenaran model teori korespondensi, akan tetapi dilihat dari perspektif kesepakatan atau kemanfaatan, atau kegunaan bagi kehidupan kita, untuk perluasan wawasan dan komunikasi atau manfaat transformasi dan emansipasi. Dengan demikian, ilmu pengetahuan bukan untuk ilmu itu saja akan tetapi juga untuk meningkatkan harkat kemanusiaan dan kemanfaatan bagi alam dan kehidupan.[31]
Beberapa pandangan utama dalam pragmatisme:
1.        Pengetahuan diturunkan dari pengalaman, metode-metode eksperimental, dan upaya-upaya praktis. Pragmatisme penting bagi spekulasi metafisika untuk tiba pada kebenaran.
2.        Pengetahuan harus digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sehari-hari, urusan-urusan praktis; untuk membantu kita menyesuaikan diri dengan lingkungan. Berpikir harus terkait dengan praktik dan aksi.
3.        Ide-ide harus durujukkan pada konsekuensi-konsekuensinya (hasil-hasil, penggunaan) demi kebenaran dan maknanya. Ide-ide adalah pedoman menuju aksi yang positif dan menuju rekontruksi kreatif pengalaman dalam berhadapan dan menyesuaikan dengan pengalaman-pengalaman baru.
4.        Kebenaran adalah sesuatu yang memiliki nilai praktis dalam pengalaman hidup kita. Kebenaran berfungsi sebagai instrumen, atau sarana dalam pencapaian tujuan-tujuan kita dan dalam kemampuan kita untuk meramalkan dan merancang masa depan untuk kepentingan kita.
5.        Kebenaran itu bisa berubah, sementara, praduga (landasan) praktis dan pasti tetapi tak dapat dibuktikan tentang moralitas eksistensi Tuhan, keabadian dan kehendak bebas.[32]



BAB III
SIMPULAN
Epistemologi pragmatisme adalah teori ilmu pengetahuan yang mendasarkan diri pada kriteria tentang fungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi manusia.
Tokoh-tokoh pragmatisme ini pada umumnya berasal dari Amerika seperti Herbert Mead, Wilhem Dilthey, Charles Sander Pierce, John Dewey dan Richard Rorty. Charles S. Pierce sebagai penggagas pragmatisme, lebih dekat disebut filosof ilmu, sedangkan William James sebagai pengembang pragmatisme, disebut filosof agama dan John Dewey sebagai orang yang menerapkan pragmatisme dalam pelbagai bidang kehidupan dikelompokkan pada filosof sosial.
Secara umum pragmatisme menekankan kebenaran adalah memberikan manfaat, memberikan nilai praktis dalam kehidupan, melalui pengalaman yang yang menghasilkan pengetahuan, yang kemudian pengetahuan harus digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sehari-hari yang dapat membantu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kemudian dari kebenaran berfungsi sebagai instrumen, atau sarana dalam pencapaian tujuan-tujuan kita dan dalam kemampuan kita untuk meramalkan dan merancang masa depan untuk kepentingan kita. Sehingga ilmu pengetahuan bukan untuk ilmu itu saja akan tetapi juga untuk meningkatkan harkat kemanusiaan dan kemanfaatan bagi alam dan kehidupan.



DAFTAR PUSTAKA

Akhyar Yusuf Lubis, Epistemologi Fundasional, Isu-isu Teori Pengetahuan, Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Metodologi, Akademia, Bogor, 2009
Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer, Rajawali Pers, Jakarta: 2014
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Rajawali Pers, Jakarta: 2011
Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari Mitologi sampai Teofilosofi, Pustaka Setia, Bandung: 2008
Jalaluddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Rajawali Pers, Jakarta: 2014
M. Adib, Filsafat Ilmu, Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2011
Rodliayah Khuza’i, Dialog Epistemologi Muhammad Iqbal dan Carles S. Pierce, PT Refika Aditama, Bandung: 2007, h. 71
Tim Penulis Rosda, Kamus Filsafat, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 1995
https://afidburhanuddin.wordpress./2012/11/05/william-james-biografi-dan-pemikiran/html
https://dodi17setiadi.blogspot.co.id/2009/2009/12/pemikiran-epistimologi-charles-sanders.html
http://rennynataliaa.blogspot.co.id/2013/01/pragmatisme-john-dewey.html
https://leonardoansis.wordpress.com/goresan-pena-sahabatku-yono/goresan-pena-sahabatku-paul-kalkoy/pragmatisme-john-dewey/
http://www.psychologymania.com/2010/03/william-james-tokoh-pragmatisme.html







[1]Jalaluddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Rajawali Pers, Jakarta: 2014, h. 166
[2]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Rajawali Pers, Jakarta: 2011, h. 148
[3]Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer, Rajawali Pers, Jakarta: 2014, h. 245
[4]Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari Mitologi sampai Teofilosofi, Pustaka Setia, Bandung: 2008, h. 319
[5]M. Adib, Filsafat Ilmu, Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2011, h. 123
[6]Akhyar Yusuf Lubis, Epistemologi Fundasional, Isu-isu Teori Pengetahuan, Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Metodologi, Akademia, Bogor, 2009, h. 72
[7]http://rennynataliaa.blogspot.co.id/2013/01/pragmatisme-john-dewey.html
[8]Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer, h. 252
[9]ibid, h. 136
[10] Rodliayah Khuza’i, Dialog Epistemologi Muhammad Iqbal dan Carles S. Pierce, PT Refika Aditama, Bandung: 2007, h. 71
[11]ibid, h. 137
[12]ibid, h. 126
[13]ibid, h. 138
[14] Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer, h. 241
*       [16]http://www.psychologymania.com/2010/03/william-james-tokoh-pragmatisme.html
[17]https://leonardoansis.wordpress.com/goresan-pena-sahabatku-yono/goresan-pena-sahabatku-paul-kalkoy/pragmatisme-john-dewey/
[18] Jalaluddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, h. 148
[19] Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari Mitologi sampai Teofilosofi, h. 320
[20] Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer, h. 54
[21]Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari Mitologi sampai Teofilosofi, h. 321
[22] Jalaluddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, h. 146
[23] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, h. 199
[24] Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer, h. 54
[25] Jalaluddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, h. 148
[26]Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari Mitologi sampai Teofilosofi, h. 319
[27] Jalaluddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, h. 145
[28]ibid, h. 148
[30] Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer, h. 147
[31]ibid, h. 179
[32] Tim Penulis Rosda, Kamus Filsafat, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 1995, h. 261

1 komentar: