asy'ari dan maturidiyah

SEJARAH RINGKAS FAHAM AL ASY’ARIYAH DAN AL MATURIDIYYAH SERTA AJARANNYA
Faham Asy’ariyah
Asy’ariyah adalah salah satu aliran dalam teologi yang namanya dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari. Beliau lahir di kota Basrah pada tahun 280 H/873 M wafat pada tahun 324H/935 M dan merupakan keturunan sahabat besar Nabi yang bernama Abu Musa Al Asy’ari.
Dalam belajar agama, ia mula-mula berguru kepada Abu Ali Al Jubai salah seorang yang berfaham Mu’tazilah. Sebelumnya beliau mengikuti jejak gurunya yang berfaham Mu’tazilah tersebut hingga usia 40 tahun. Bisa dipastikan beliau sangat memahami dam menguasai faham kemu’tazilahan tersebut bahkan beliau dipercaya oleh gurunya sebagai juru bicara debat tentang faham tersebut kepada orang lain. Di kemudian hari beliau merasa tidak puas dengan fahamnya dengan mempertimbangkan alasan-alasan faham Mu’tazilah dan ulama-ulama fiqih dan ulama-ulama hadis. Sehingga ada riwayat mengatakan bahwa beliau mengasingkan diri beberapa lama untuk memikirkan ajaran-ajaran Mu’tazilah. Sesudah itu beliau keluar rumah, pergi ke mesjid dan naik mimbar menyatakan:
“Hadirin sekalian, saya sdselam ini mengasingkan diri untuk berfikir tentang keterangan-keterangan dan dalil yang diberikan masing-masing golongan. Dalil-dalil yang diajukan, dalam penelitian saya, sama kuatnya. Oleh karena itu saya meminta petunjuk dari Allah dan atas petnjuk-Nya saya sekarang meninggalkan keyakinan-keyakinan lama dan menganut keyakinan-keyakinan baru yang saya tulis dalam buku-buku ini. Keyakinan-keyakinan lam saya lemparkan sebagaimana saya melemparkan baju ini”.
Perasaan ragu dalam benak Asy’ari menurut Ahmad Mahmud Subhi karena beliau menganut mazhab Syafi’i. Imam Syafi’i mempunyai pendapat teologi yang berbeda dengan Mu’tazilah, umpamanya Imam Syafi’i berpendapat bahwa al Qur’an tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim dan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat nanti. Selain itu beliau juga menimbang-nimbang dalil dengan mempelajari hadis-hadis.
Adapun pokok-pokok ajaran Asr’ariyah yang terpenting antara lain adalah:
a)    Sifat Tuhan
Menurut ajaran Asy’ariyah, Tuhan mempunyai sifat-sifat sebagaimana di sebutkan di dalam al Qur’an, seperti Allah mengetahui dengan ilmu, berkuasa dengan Qudrat , hidup
dengan Hayah dan seterusnya. Siifat-sifat tersebut adalah azali, sifat-sifat itu bukanlah zat Tuhan bukan pula lain dari zatnya.
b)   Perbuatan manusia menurut aliran Asy’ariyah adalah ciptaan Tuhan, bukan diciptakan oleh manusia itu sendiri. Untuk mewujudkan suatu perbuatan, manusia membutuhkan dua daya,  yaitu daya Tuhan dan daya manusia.
c)    Tentang orang yang berdosa besar, menurut beliau mereka adalah tetap mukmin karena keimananya masih ada, tetapi karena dosa besarnya itu menjadikan ia seorang yang fasiq.
d)   Semua orang yang berijtihad adalah benar. Sekalipun beliau telah meninggalkan faham Mu’tazilah tak serta merta menentang kebebasan manusia untuk berfikir. Sahabat pasca Rasulullah wafat juga melakukan hal-hal yang tidak pernah Rasulullah lakukan, meski demikian mereka tidak disebut orang bid’ah. Tetapi beliau membenci orang-orang berlebih-lebihan mengagungkan akal-fikiran. Akan tetapi beliau menggunakan akal menjadi penguat nas-nas (al Qur’an-hadis).

Tokoh-Tokoh Faham Asy’ariyah
1.    Al baqillany ( wafat 403 H/ 1013 M). Nama lengkap beliau Abu Bakar Muhammad bin Tayyib.
2.    Al Juwainy (419-478 H/ 1028-1088 M). Bernama Abu al Ma’aly bin Abdullah, dilahirkan di Naisabur.
3.    Al Gazali (450-505 H). Beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Gazali, dilahirkan di kota Tus.
4.    As Sanusy (833-895 H/ 1527-1490 M). Nama beliau Abu Abdillah Muhammada bin Yusuf, dilahirkan di kota Tilimsan, Aljazair.

Karya Asy’ari
Beliau meninggalkan karangan-karangan kurang lebih 90 buah. Dan yang terkenal ada tiga yaitu:
v Maqalat al Islamiyah (pendapat-pendapat golongan-golongan Islam). Kitab tersebut dibagi tiga, pertama berisi pendapat bermacam-macam golongan Islam, kedua tentang pendirian ahli Hadis dan Sunnah dan ketiga tentang bermacam-macam persoalan ilmu kalam.

v Al ibanah ‘an Ushulud Diyanah ( keteranga tentang dasar-dasar agama). Berisi uraian tentang kepercayaan ahli Sunnah dan dimulainya denga memuji Ahmad bin Hanbal dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya
v Al Luma’ (Sorotan).

Faham al Maturidiyyah
Pendiri faham Maturidiyah adalah Muhammad bin Muhammad Abu Mansur. Dilahirkan di kta Samarkand pada pertengahan kedua abad ke sembilan masehi dan meninggal tahun 332H/ 944 M.
Maturidi hidup semasa dengan Asy’ari hanya berbeda tempat. Keduanya sama menentang Mu’tazilah. Asy’ari bermazhab Syafi’i sedang Maturidi bermazhab Hanafi. Pendapat keduanya hampir sama atau berdekatan  tetapi tidak sama. Sehingga Muhammad Abduh mengatakan bahwa soal-soal yang diperselisihkan antara keduanya tidak lebih dari 10 soal yang kesemuanya ridak terlalu mendasar dan hanya perbedaan istilah. Selain karena persamaan lawan tersebut, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu membela kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam al Qur’an.
Perbedaan keduanya nampak pada persoalan berikut:
·      Faham asy’ariyah berpendapat bahwa mengetahui Tuhan  diwajibkan syara’ sedang menurut Maturidiyah diwajibkan akal.
·      Menurut faham Asy’ariyah sesuatu perbuatan tidak mempunyai sifat baik dan buruk. Baik dan buruk tidak lain karena diperintahkan syara’ atau dilarangnya. Maturidiyah berpendapat pada tiap-tiap perbuatan itu sendiri ada sifat baik dan sifat-sifat buruk.
Dengan demikian Maturidiyah lebih mendekati golongan Mu’tazilah, karena beliau bermazhab Hanafi yang banyak memakai rasio.
Pemikiran Al Maturidi antara lain:
1.    Sifat Tuhan. Menurut pendapatnya Tuhan mempunyai sifat-sifat , Tuhan mengetahui bukan deng zatNya tetapi mengetahui dengan PengetahuanNya dan berkuasa bukan dengan zatNya.
2.    Perbuatan manusia. Beliau sependapat dengan Mu’tazilah, bahwa manusialah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
3.    AlQur’an. Tidak sepaham dengan Mu’tazilah yang mengatakan al Quran itu diciptakan.
4.    Soal dosa besar. Sepaham dengan Asy’ari yaitu orang yang berdosa besar tetap mukmin, dan soal dosa besarnya akan ditentukan Tuhan kelaj di akhirat.
Tokoh faham Maturidiyah antara lain adalah Abu al Yusr Muhammad al Bazdawi (421-493 H). Murid al Bazdawi Najm al Din Muhammad al Nasafi (460-537 H) pengarang buku al ‘Aqa’idal Nasafiyah. Dalam aliran Maturidiyah terdapat dua golongan, golongan Samarkand yaitu pengikut-pengkut al Maturidi sendiri dan golongan Bukhara yaitu pengikut-pengikut al Bazdawi. Golongan Samarkand berfaham lebih dekat pada faham Mu’tazilah sedang golongan Bukhara lebih dekat pada Asy’ari.
Karya al Maturidi antara lain Risalah Fi al ‘Aqa’id danSyarh al Fiqh al Akbar, Akitab Al Tawhid dan Ta’wil al Qur’an.

Kesimpulan
Faham Asy’ariyah dan faham Maturidiyah adalah dua faham yang muncul menanggapi faham dari Mu’tazilah yang tidak bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat Islam kebanyakan yang Mu’tazilah berlebihan menggunakan akal. Kedua faham ini berusaha mengembalikan pemahaman tauhid berdasarkan nas-nas yang ada, al Qur’an dan Hadis dengan akal sebagai penguat nas-nas tersebut.




DAFTAR PUSTAKA
Ahamd Hanafi, Theology Islam (Ilmu Kalam.  Bulan biuntang: Jakarta. 1986
Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan
Drs. H. Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam. Pustaka Setia: Bandung. 1998
           



0 komentar:

Posting Komentar