teknokrasi

filsafat
KEBUDAYAAN, TEKNOLOGI DAN TEKNOKRASI

A.      Risuman
Fuad Hasan yang membahas mengenai kebudayaan, teknologi dan teknokrasi bahwa dalam era kontemporer, orang tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa pesatnya perkembangan teknologi semakin terasa dampaknya sebagai daya yang memasuki berbagai bidang kehidupan, dan sejalan dengan kenyataan itu timbul pula berbagai tantangan dan tuntutan baru terhadap kehidupan masyarakat modern. Teknologi semakin cenderung ditonjuolkan sebagai tolak ukur untuk menilai sejauh mana tingkat modernisasi yang telah dicapai oleh suatu masyarakat, bahkan bisa dikatakan bahwa dewasa ini gejala kecendrungan glorifikasi terhadap teknologi semakin kuat. Dalam perkembangannya, teknologi dapat membuktikan kesanggupannya sebagai perpanjangan kemampuan manusia, baik untuk dimanfaatkan secara konstruktif  maupun digunakan untuk tujuan destruktif.
Sebagai perpanjangan kemampuan manusia teknologi bisa menjadikan apa yang pada awalnya merupakan minus dari kemampuannya (ability) menjadi surplus bagi kesanggupannya (capability). Menurut fitrahnya, manusia tidak mampu terbang, namun dengan teknologi sebagai perpanjangannya dia bisa terbang, bahkan tinggal beberapa lama di angkasa luar, pertemuan tatap muka (face to face) juga dapat dilaksanakan dalam jarak yang amat jauh melalui tatap-citra (image to image). Ini merupakan ilustrasi yang menunjukkan betapa teknologi telah memungkinkan terjadinya transformasi mendasar dan berskala luas dalam kehidupan manusia.
Kemajuan teknologi juga merubah ruang dan waktu secara kualitatif dan kuantitatif. Terutama oleh faktor percepatan (speed) dan kekuatan (power). Yang pengaruhnya mencuat dalam perkembangan teknologi, transfortasi serta komunikasi dan informasi. Implikasi kemajuan teknologi berbeda dengan perkembangan ilmu. dalam bidang ilmu, suatu tesis baru tidak dengan sendirinya berarti menggagalkan keabsahan atau berlakunya tesis lama. Sekalipun dirumuskan sebagai anti tesis. Begitu pula dengan teori baru tidak harus berarti usangnya teori lama meskipun disajikan sebagai kontra teori. Ilmu berkembang tanpa harus saling mengusangkan keabsahan tesis atau teori pendukungnya masing-masing, tetapi bisa berlangsung sebagai kesejajaran, saling melengkapi atau bahkan saling bertentangan. Sedangkan kemajuan teknologi ditandai oleh susul menyusulnya proses pemutakhiran dan pengusangan. Setiap kali teknologi dimutakhirkan ia selalu membawa konsekuensi dianggap usangnya pendahulunya. Meskipun rentang hidupnya (life-cycle) berbeda-beda, namun setiap teknologi mutakhir (up to date) akan menjadikan pendahulunya tertinggal (out-of-date) dan akhirnya usang (obsolete).
Sebagai daya yang terus menerus maju dengan pemutakhiran, akhirnya teknologi tampil sebagai kekuatan (kratos) yang dominan dalam kehidupan modern dan pasca-modern. Teknologi yang mulanya diciptakan sebagai perpanjangan kemampuan manusia, lambat laun berbalik menjadikan manusia sebagai perpanjangannya. Apalagi oleh makin bertambahnya ketergantungan manusia pada penyrtaan teknologi dalam berbagai bidang kehidupannya. Dominasi teknologi sebagai kekuatan yang makin berpengaruh dalam mengendalikan peri kehidupan manusia dan kemanusiaan itu oleh sejumlah filsuf akhir abad ini disebut sebagai gejala teknokrasi. Teknokrasi membawa berbagai konsekuensi terhadap kehidupan manusia umumnya, secara individual maupun kolektif. Berubahnya pola interaksi antar manusia dimungkinkan oleh intervensi peralatan, pola kerja pun berubah oleh dimungkinkannya substitusi unsur manusia oleh mesin.
Dalam era modernisme dan pasca modernisme, kehadiran teknologi tidak mungkin ditangkal, kecuali dengan akibat ketertinggalan yang pada gilirannya akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin meluas.
Dalam hal ini, teknologi dan teknokrasi akan membawa berlanjut dengan berseminya budaya baru yang melahirkan berbagai pola interaksi dengan selamanya. Teknologi dan teknokrasi juga membangkitkan proses kultural dalam masyarakat yang diterpanya. Yang menjadi masalah ialah sejauh mana suatu masyarakat siap memasuki zaman yang ditandai oleh supermasi teknologi dan teknokrasi sebagai day ape,bangkit budaya baru tanpa merapuhkan ketahanan budayanya sendiri.
Sejalan dengan dominasi bahkan glorifikasi teknologi cenderung muncul budaya baru, maka bidang yang sangat penting pengaruhnya dalam hubungan ini adalah peran teknologi, transfortasi serta komunikasi dan informasi. Melalui bidang-bidang ini meningkatlahn pertemuan antar budaya. Namun, pertemuan antar budaya yang seharusnya menjadi kesempatan saling pengayaan wawasan pihak-pihak yang saling bertemu, pada kenyataanya dewasa ini lebih berlangsug sebagai arus satu arah. Sulit sekali untuk membendung derasnya arus informasi dari pusat-pusat global dengan dukungan teknologi canggih dalam bidang transfortasi serta komunikasi dan informasi. Jelas kiranya bahwa arus informasi yang menerpa secara bertubi-tubi itu akhirnya juga merupakan suatu proses pembudayaan.
Proses kebudayaan yang menerpa secara bertubi-tubi dan sepihak itu niscaya pada saatnya akan menghentakkan kesadaran mereka yang terhanyut olehnya untuk berusaha menggali dan menemukan kembali makna kesejatian eksistensi sebagai manusia. uraian di atas mungkin memberi kesan setiap negative terhadap teknologi dan teknokrasi dalam peri kehidupan manusia dan masyarakat. Kesan itu perlu dibenahi. Tujuan penyajian berbagai konsekuensi dari dominasi teknologi dan menguatnya gejala teknokrasi ialah agar kita tidak  mudah terseret oleh sikap glorifikasi terhadap teknologi dan hasrat untuk serta merta menerapkannya. Dan yang paling penting adalah sejauh mana kesiapan masyarakat untuk memanfaatkannya secara efektif dan efesien pada derajat se-optimal mungkin. Betapapun majunya teknologi sebagai hasil karya manusia adalah perpanjangan bagi kemampuannya bukan sebaliknya, menjadikan manusia sebagai perpanjangannya. Manusia adalah pusat orientasi bagi dirinya, maka nilai-nilai kemanusiaan harus senantiasa diunggulkan di atas teknologi yang notabennya merupakan hasil ciptaannya sendiri.

B.        Komentar
Pada masa sekarang, perkembangan teknologi yang sangat maju pesat menimbulkan dampak yang positif dan juga negatif. Bapak Fuad Hasan dalam pidato Kebudayaan tersebut mengulas tentang apa yang dirasakan sebagai dampak dari perkembangan kemajuan teknologi yang amat pesat itu, yang kemajuannya tak dapat ditangkal-tangkal.
 Beliau mengatakan teknologi cenderung ditonjolkan sebagai tolak ukur untuk menilai sejauh mana tingkat modernisasi yang telah dicapai oleh sesuatu masyarakat. Begitu eratnya keterjalinan antara manusia dan teknologi sebagai perpanjangan kemampuannya, sehingga apa yang asalnya merupakan minus dari kemampuannya bisa berkembang menjadi surplus bagi kesanggupannya. Dari kata-kata beliau tersebut dapat dipahami bahwa yang pada mulanya kemampuan manusia itu terbatas kemudian dia dapat mengembangkan kemampuannya sehingga kemudian apa yang menjadi kekurangannya (keterbatasannya) sebagai kelebihannya. Dengan memberikan penjelasan analoginya dengan manusia tidak mampu terbang, namun dengan adanya teknologi dia mampu terbang bahkan dapat berlama-lama di angkasa, seperti face to face, image to image dan lainnya.
Ruang dan waktu tak lagi menjadi batasan. Adanya faktor kekuatan (power) dan kecepatan menjadi alasan memutakhirkan teknologi termasuk dalam perkembangan teknologi transportasi, serta komunikasi dan informasi. Satu contohnya internet membuka pintu keterbukaan dalam arti luas, keterbuakaan memperoleh dan menyebarkan informasi untuk berbagai kepentingan.
Kemajuan teknologi dapat merubah pola interaksi seseorang, menyempitkan dunia pergaulan sosialnya, selain itu menurut beliau, membanjirnya informasi yang tak terbendung menyebabkan seseorang tidak mampu menyimpan informasi itu atau mengulangnya kembali kecuali dengan kecanggihan dari teknologi lainnya.
Teknologi membuat kesan atau kecenderungan akan disamakannya kemampuan otak manusia dengan komputer yang sebenarnya adalah buatan manusia. Kemajuan tersebut memaksa seseorang untuk dapat dengan segera menguasai teknologi jika tidak mau ketinggalan. Dengan kata lain siapa tidak mampu mengikuti kemajuan itu dia akan tertinggal. Akibat dari kemajuan teknologi berbeda dengan kemajuan ilmu. Di mana majunya suatu teknologi baru dapat membuata teknologi sebelumnya usang atau tak laku.
Gejala teknokrasi timbul ketika pandangan hidup, gaya hidup seseoarang yang sangat dipengaruhi oleh teknologi atau berubahnya kebudayaan suatu masyarakat yang dipengaruhi oleh teknologi. Sebagai contoh berubahnya pola interkasi dengan menggunakan teknologi yang dulunya dapat saling bertemu secara langsung sekarang dapat saling bertemu sekalipun di tempat yang berbeda. Pola kerja pun berubah sangat modern dengan teknologi sekali lagi dapat menyelesaikan hubungan kesepakatan kerja tanpa saling bertemu secara langsung dengan teknologi.
Ada beberapa konsekuensi dari majunya teknologi disertai dengan menguatnya teknokrasi sebagai kelanjutannya adalah ketertinggalan. Ketertinggalan tersebut dapat menjadi pendinding atau kesenjangan yang besar. Masyarakat mau tidak mau harus mengikuti perubahan teknologi yang mempengaruhi kehidupannnya. Secara tidak sengaja masyarakat itu sendiri telah mebuat suatu budaya baru. Yang menjadi masalah adalah kesiapan dari masyarakat itu sendiri menghadapi lajunya perkembangan teknologi dan teknokrasi dalam mempertahankan budayanya yang dulu.
Pak Fuad Hasan mengatakan bahwa dengan semakin meningkatnya teknologi, tidak membuat budaya yang dulu mengabur akan tetapi diharapkan dengan teknologi yang canggih itu dapat memberikan informasi tentang kebudayaan dengan baik, memperkenalkan budaya lainnya secara menyeluruh, pengetahuan tentang budaya lainnya tak lagi jadi sulit. Namun sayangnya kemajuan itu tidak dimbangi dengan majunya kekayaan budaya sebelumnya.
Dapat disimpulkan dari pemaparan beliau adalah bahwa hendaknya laju peningkatan teknologi dan teknokrasi tidak menghilangkan hakikat manusia yang tidak dapat hidup sendiri atau hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa tidak berkomunikasi dengan yang lainnya atau tidak menghilangkan keeksisan manusia yang selalu ingin berkembang. Diharapkan kembali dapat menggunakan teknologi secara efektif dan berdaya guna. Jangan sampai teknologi yang mulanya adalah untuk membantu memudahkan kita dalam berbuat sesuatu menjadikan  kita yang diperbudak oleh teknologi tersebut.
Bagaimanapun juga manusia yang  eksis mengembangkan dirinya sendiri, bukan manusia yang tidak berfikir hanya mengambil informasi-informasi dari majunya teknologi. Karena teknologi dapat mengakibatkan manusia hidup pragmatis, ingin mudah tanpa berusaha. Khususnya dalam dunia pendidikan, dengan adanya teknologi dapat membuat anak malas berfikir, kurangnya interaksi lahir batin antara murid dan guru, melemahkan perkembangan berfikir anak, parahnya mungkin ada istilah ‘copy-paste’ dalam pendidikan. Itu hanya beberapa dari dampak majunya teknologi yang tidak dapat dapat diimbangi dan menempatkannya sesuai kebutuhan.
Teknologi pada mulanya adalah sarana untuk memudahkan kita dalam berbuat sesuatu tidak dapat dijadikan alasan umum menyelesaikan sesuatu itu hanya dengan teknologi. Teknologi yang tak dapat diimbangi dapat membuat interaksi antar masyarakat sosialnya berubah, perasaan batin manusia berkurang, selain itu dapat menjadikan perubahan kedudukan manusia seperti mesin.

GLOSARIUM
*        Kontemporer           :   pada waktu yang sama
*        Glorifikasi               :   pemujaan, pengagungan
*        Konstruktif              :   bersifat membangun, memperbaiki
*        Destruktif                :   bersifat merusak
*        Kuantitatif                :   berdasarkan jumlah, banyaknya
*        Kualitatif                  :   berdasar mutu
*        Imperative               :   bersifat memiliki kewenangan untuk memerintah
*        Birokrasi                 :   sistem pemerintahan berdasar jenjang jabatan            
*        Hierarki                   :   urutan, tingkatan atau jenjang jabatan
*        Reduksi                   :   potongan, pengurangan
*        Konfigurasi             :   bentuk, wujud
*        Substitusi                :   penggantian
*        Antitesis                  :   pertentangan yang benar-benar
*         Intervensi               :   campur tangan
*        heteronomi              :   ketergantungan pada UU atau kuasa orang lain
*        alienasi                    :   terisolasi
*        distorsi                    :   pemutar balikan fakta



4 komentar: