HANDMADE

0 komentar


























foto foto keren

3 komentar

1.

2.
3.
4.

5.

0 komentar




teknokrasi

4 komentar

filsafat
KEBUDAYAAN, TEKNOLOGI DAN TEKNOKRASI

A.      Risuman
Fuad Hasan yang membahas mengenai kebudayaan, teknologi dan teknokrasi bahwa dalam era kontemporer, orang tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa pesatnya perkembangan teknologi semakin terasa dampaknya sebagai daya yang memasuki berbagai bidang kehidupan, dan sejalan dengan kenyataan itu timbul pula berbagai tantangan dan tuntutan baru terhadap kehidupan masyarakat modern. Teknologi semakin cenderung ditonjuolkan sebagai tolak ukur untuk menilai sejauh mana tingkat modernisasi yang telah dicapai oleh suatu masyarakat, bahkan bisa dikatakan bahwa dewasa ini gejala kecendrungan glorifikasi terhadap teknologi semakin kuat. Dalam perkembangannya, teknologi dapat membuktikan kesanggupannya sebagai perpanjangan kemampuan manusia, baik untuk dimanfaatkan secara konstruktif  maupun digunakan untuk tujuan destruktif.
Sebagai perpanjangan kemampuan manusia teknologi bisa menjadikan apa yang pada awalnya merupakan minus dari kemampuannya (ability) menjadi surplus bagi kesanggupannya (capability). Menurut fitrahnya, manusia tidak mampu terbang, namun dengan teknologi sebagai perpanjangannya dia bisa terbang, bahkan tinggal beberapa lama di angkasa luar, pertemuan tatap muka (face to face) juga dapat dilaksanakan dalam jarak yang amat jauh melalui tatap-citra (image to image). Ini merupakan ilustrasi yang menunjukkan betapa teknologi telah memungkinkan terjadinya transformasi mendasar dan berskala luas dalam kehidupan manusia.
Kemajuan teknologi juga merubah ruang dan waktu secara kualitatif dan kuantitatif. Terutama oleh faktor percepatan (speed) dan kekuatan (power). Yang pengaruhnya mencuat dalam perkembangan teknologi, transfortasi serta komunikasi dan informasi. Implikasi kemajuan teknologi berbeda dengan perkembangan ilmu. dalam bidang ilmu, suatu tesis baru tidak dengan sendirinya berarti menggagalkan keabsahan atau berlakunya tesis lama. Sekalipun dirumuskan sebagai anti tesis. Begitu pula dengan teori baru tidak harus berarti usangnya teori lama meskipun disajikan sebagai kontra teori. Ilmu berkembang tanpa harus saling mengusangkan keabsahan tesis atau teori pendukungnya masing-masing, tetapi bisa berlangsung sebagai kesejajaran, saling melengkapi atau bahkan saling bertentangan. Sedangkan kemajuan teknologi ditandai oleh susul menyusulnya proses pemutakhiran dan pengusangan. Setiap kali teknologi dimutakhirkan ia selalu membawa konsekuensi dianggap usangnya pendahulunya. Meskipun rentang hidupnya (life-cycle) berbeda-beda, namun setiap teknologi mutakhir (up to date) akan menjadikan pendahulunya tertinggal (out-of-date) dan akhirnya usang (obsolete).
Sebagai daya yang terus menerus maju dengan pemutakhiran, akhirnya teknologi tampil sebagai kekuatan (kratos) yang dominan dalam kehidupan modern dan pasca-modern. Teknologi yang mulanya diciptakan sebagai perpanjangan kemampuan manusia, lambat laun berbalik menjadikan manusia sebagai perpanjangannya. Apalagi oleh makin bertambahnya ketergantungan manusia pada penyrtaan teknologi dalam berbagai bidang kehidupannya. Dominasi teknologi sebagai kekuatan yang makin berpengaruh dalam mengendalikan peri kehidupan manusia dan kemanusiaan itu oleh sejumlah filsuf akhir abad ini disebut sebagai gejala teknokrasi. Teknokrasi membawa berbagai konsekuensi terhadap kehidupan manusia umumnya, secara individual maupun kolektif. Berubahnya pola interaksi antar manusia dimungkinkan oleh intervensi peralatan, pola kerja pun berubah oleh dimungkinkannya substitusi unsur manusia oleh mesin.
Dalam era modernisme dan pasca modernisme, kehadiran teknologi tidak mungkin ditangkal, kecuali dengan akibat ketertinggalan yang pada gilirannya akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin meluas.
Dalam hal ini, teknologi dan teknokrasi akan membawa berlanjut dengan berseminya budaya baru yang melahirkan berbagai pola interaksi dengan selamanya. Teknologi dan teknokrasi juga membangkitkan proses kultural dalam masyarakat yang diterpanya. Yang menjadi masalah ialah sejauh mana suatu masyarakat siap memasuki zaman yang ditandai oleh supermasi teknologi dan teknokrasi sebagai day ape,bangkit budaya baru tanpa merapuhkan ketahanan budayanya sendiri.
Sejalan dengan dominasi bahkan glorifikasi teknologi cenderung muncul budaya baru, maka bidang yang sangat penting pengaruhnya dalam hubungan ini adalah peran teknologi, transfortasi serta komunikasi dan informasi. Melalui bidang-bidang ini meningkatlahn pertemuan antar budaya. Namun, pertemuan antar budaya yang seharusnya menjadi kesempatan saling pengayaan wawasan pihak-pihak yang saling bertemu, pada kenyataanya dewasa ini lebih berlangsug sebagai arus satu arah. Sulit sekali untuk membendung derasnya arus informasi dari pusat-pusat global dengan dukungan teknologi canggih dalam bidang transfortasi serta komunikasi dan informasi. Jelas kiranya bahwa arus informasi yang menerpa secara bertubi-tubi itu akhirnya juga merupakan suatu proses pembudayaan.
Proses kebudayaan yang menerpa secara bertubi-tubi dan sepihak itu niscaya pada saatnya akan menghentakkan kesadaran mereka yang terhanyut olehnya untuk berusaha menggali dan menemukan kembali makna kesejatian eksistensi sebagai manusia. uraian di atas mungkin memberi kesan setiap negative terhadap teknologi dan teknokrasi dalam peri kehidupan manusia dan masyarakat. Kesan itu perlu dibenahi. Tujuan penyajian berbagai konsekuensi dari dominasi teknologi dan menguatnya gejala teknokrasi ialah agar kita tidak  mudah terseret oleh sikap glorifikasi terhadap teknologi dan hasrat untuk serta merta menerapkannya. Dan yang paling penting adalah sejauh mana kesiapan masyarakat untuk memanfaatkannya secara efektif dan efesien pada derajat se-optimal mungkin. Betapapun majunya teknologi sebagai hasil karya manusia adalah perpanjangan bagi kemampuannya bukan sebaliknya, menjadikan manusia sebagai perpanjangannya. Manusia adalah pusat orientasi bagi dirinya, maka nilai-nilai kemanusiaan harus senantiasa diunggulkan di atas teknologi yang notabennya merupakan hasil ciptaannya sendiri.

B.        Komentar
Pada masa sekarang, perkembangan teknologi yang sangat maju pesat menimbulkan dampak yang positif dan juga negatif. Bapak Fuad Hasan dalam pidato Kebudayaan tersebut mengulas tentang apa yang dirasakan sebagai dampak dari perkembangan kemajuan teknologi yang amat pesat itu, yang kemajuannya tak dapat ditangkal-tangkal.
 Beliau mengatakan teknologi cenderung ditonjolkan sebagai tolak ukur untuk menilai sejauh mana tingkat modernisasi yang telah dicapai oleh sesuatu masyarakat. Begitu eratnya keterjalinan antara manusia dan teknologi sebagai perpanjangan kemampuannya, sehingga apa yang asalnya merupakan minus dari kemampuannya bisa berkembang menjadi surplus bagi kesanggupannya. Dari kata-kata beliau tersebut dapat dipahami bahwa yang pada mulanya kemampuan manusia itu terbatas kemudian dia dapat mengembangkan kemampuannya sehingga kemudian apa yang menjadi kekurangannya (keterbatasannya) sebagai kelebihannya. Dengan memberikan penjelasan analoginya dengan manusia tidak mampu terbang, namun dengan adanya teknologi dia mampu terbang bahkan dapat berlama-lama di angkasa, seperti face to face, image to image dan lainnya.
Ruang dan waktu tak lagi menjadi batasan. Adanya faktor kekuatan (power) dan kecepatan menjadi alasan memutakhirkan teknologi termasuk dalam perkembangan teknologi transportasi, serta komunikasi dan informasi. Satu contohnya internet membuka pintu keterbukaan dalam arti luas, keterbuakaan memperoleh dan menyebarkan informasi untuk berbagai kepentingan.
Kemajuan teknologi dapat merubah pola interaksi seseorang, menyempitkan dunia pergaulan sosialnya, selain itu menurut beliau, membanjirnya informasi yang tak terbendung menyebabkan seseorang tidak mampu menyimpan informasi itu atau mengulangnya kembali kecuali dengan kecanggihan dari teknologi lainnya.
Teknologi membuat kesan atau kecenderungan akan disamakannya kemampuan otak manusia dengan komputer yang sebenarnya adalah buatan manusia. Kemajuan tersebut memaksa seseorang untuk dapat dengan segera menguasai teknologi jika tidak mau ketinggalan. Dengan kata lain siapa tidak mampu mengikuti kemajuan itu dia akan tertinggal. Akibat dari kemajuan teknologi berbeda dengan kemajuan ilmu. Di mana majunya suatu teknologi baru dapat membuata teknologi sebelumnya usang atau tak laku.
Gejala teknokrasi timbul ketika pandangan hidup, gaya hidup seseoarang yang sangat dipengaruhi oleh teknologi atau berubahnya kebudayaan suatu masyarakat yang dipengaruhi oleh teknologi. Sebagai contoh berubahnya pola interkasi dengan menggunakan teknologi yang dulunya dapat saling bertemu secara langsung sekarang dapat saling bertemu sekalipun di tempat yang berbeda. Pola kerja pun berubah sangat modern dengan teknologi sekali lagi dapat menyelesaikan hubungan kesepakatan kerja tanpa saling bertemu secara langsung dengan teknologi.
Ada beberapa konsekuensi dari majunya teknologi disertai dengan menguatnya teknokrasi sebagai kelanjutannya adalah ketertinggalan. Ketertinggalan tersebut dapat menjadi pendinding atau kesenjangan yang besar. Masyarakat mau tidak mau harus mengikuti perubahan teknologi yang mempengaruhi kehidupannnya. Secara tidak sengaja masyarakat itu sendiri telah mebuat suatu budaya baru. Yang menjadi masalah adalah kesiapan dari masyarakat itu sendiri menghadapi lajunya perkembangan teknologi dan teknokrasi dalam mempertahankan budayanya yang dulu.
Pak Fuad Hasan mengatakan bahwa dengan semakin meningkatnya teknologi, tidak membuat budaya yang dulu mengabur akan tetapi diharapkan dengan teknologi yang canggih itu dapat memberikan informasi tentang kebudayaan dengan baik, memperkenalkan budaya lainnya secara menyeluruh, pengetahuan tentang budaya lainnya tak lagi jadi sulit. Namun sayangnya kemajuan itu tidak dimbangi dengan majunya kekayaan budaya sebelumnya.
Dapat disimpulkan dari pemaparan beliau adalah bahwa hendaknya laju peningkatan teknologi dan teknokrasi tidak menghilangkan hakikat manusia yang tidak dapat hidup sendiri atau hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa tidak berkomunikasi dengan yang lainnya atau tidak menghilangkan keeksisan manusia yang selalu ingin berkembang. Diharapkan kembali dapat menggunakan teknologi secara efektif dan berdaya guna. Jangan sampai teknologi yang mulanya adalah untuk membantu memudahkan kita dalam berbuat sesuatu menjadikan  kita yang diperbudak oleh teknologi tersebut.
Bagaimanapun juga manusia yang  eksis mengembangkan dirinya sendiri, bukan manusia yang tidak berfikir hanya mengambil informasi-informasi dari majunya teknologi. Karena teknologi dapat mengakibatkan manusia hidup pragmatis, ingin mudah tanpa berusaha. Khususnya dalam dunia pendidikan, dengan adanya teknologi dapat membuat anak malas berfikir, kurangnya interaksi lahir batin antara murid dan guru, melemahkan perkembangan berfikir anak, parahnya mungkin ada istilah ‘copy-paste’ dalam pendidikan. Itu hanya beberapa dari dampak majunya teknologi yang tidak dapat dapat diimbangi dan menempatkannya sesuai kebutuhan.
Teknologi pada mulanya adalah sarana untuk memudahkan kita dalam berbuat sesuatu tidak dapat dijadikan alasan umum menyelesaikan sesuatu itu hanya dengan teknologi. Teknologi yang tak dapat diimbangi dapat membuat interaksi antar masyarakat sosialnya berubah, perasaan batin manusia berkurang, selain itu dapat menjadikan perubahan kedudukan manusia seperti mesin.

GLOSARIUM
*        Kontemporer           :   pada waktu yang sama
*        Glorifikasi               :   pemujaan, pengagungan
*        Konstruktif              :   bersifat membangun, memperbaiki
*        Destruktif                :   bersifat merusak
*        Kuantitatif                :   berdasarkan jumlah, banyaknya
*        Kualitatif                  :   berdasar mutu
*        Imperative               :   bersifat memiliki kewenangan untuk memerintah
*        Birokrasi                 :   sistem pemerintahan berdasar jenjang jabatan            
*        Hierarki                   :   urutan, tingkatan atau jenjang jabatan
*        Reduksi                   :   potongan, pengurangan
*        Konfigurasi             :   bentuk, wujud
*        Substitusi                :   penggantian
*        Antitesis                  :   pertentangan yang benar-benar
*         Intervensi               :   campur tangan
*        heteronomi              :   ketergantungan pada UU atau kuasa orang lain
*        alienasi                    :   terisolasi
*        distorsi                    :   pemutar balikan fakta



asy'ari dan maturidiyah

0 komentar

SEJARAH RINGKAS FAHAM AL ASY’ARIYAH DAN AL MATURIDIYYAH SERTA AJARANNYA
Faham Asy’ariyah
Asy’ariyah adalah salah satu aliran dalam teologi yang namanya dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari. Beliau lahir di kota Basrah pada tahun 280 H/873 M wafat pada tahun 324H/935 M dan merupakan keturunan sahabat besar Nabi yang bernama Abu Musa Al Asy’ari.
Dalam belajar agama, ia mula-mula berguru kepada Abu Ali Al Jubai salah seorang yang berfaham Mu’tazilah. Sebelumnya beliau mengikuti jejak gurunya yang berfaham Mu’tazilah tersebut hingga usia 40 tahun. Bisa dipastikan beliau sangat memahami dam menguasai faham kemu’tazilahan tersebut bahkan beliau dipercaya oleh gurunya sebagai juru bicara debat tentang faham tersebut kepada orang lain. Di kemudian hari beliau merasa tidak puas dengan fahamnya dengan mempertimbangkan alasan-alasan faham Mu’tazilah dan ulama-ulama fiqih dan ulama-ulama hadis. Sehingga ada riwayat mengatakan bahwa beliau mengasingkan diri beberapa lama untuk memikirkan ajaran-ajaran Mu’tazilah. Sesudah itu beliau keluar rumah, pergi ke mesjid dan naik mimbar menyatakan:
“Hadirin sekalian, saya sdselam ini mengasingkan diri untuk berfikir tentang keterangan-keterangan dan dalil yang diberikan masing-masing golongan. Dalil-dalil yang diajukan, dalam penelitian saya, sama kuatnya. Oleh karena itu saya meminta petunjuk dari Allah dan atas petnjuk-Nya saya sekarang meninggalkan keyakinan-keyakinan lama dan menganut keyakinan-keyakinan baru yang saya tulis dalam buku-buku ini. Keyakinan-keyakinan lam saya lemparkan sebagaimana saya melemparkan baju ini”.
Perasaan ragu dalam benak Asy’ari menurut Ahmad Mahmud Subhi karena beliau menganut mazhab Syafi’i. Imam Syafi’i mempunyai pendapat teologi yang berbeda dengan Mu’tazilah, umpamanya Imam Syafi’i berpendapat bahwa al Qur’an tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim dan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat nanti. Selain itu beliau juga menimbang-nimbang dalil dengan mempelajari hadis-hadis.
Adapun pokok-pokok ajaran Asr’ariyah yang terpenting antara lain adalah:
a)    Sifat Tuhan
Menurut ajaran Asy’ariyah, Tuhan mempunyai sifat-sifat sebagaimana di sebutkan di dalam al Qur’an, seperti Allah mengetahui dengan ilmu, berkuasa dengan Qudrat , hidup
dengan Hayah dan seterusnya. Siifat-sifat tersebut adalah azali, sifat-sifat itu bukanlah zat Tuhan bukan pula lain dari zatnya.
b)   Perbuatan manusia menurut aliran Asy’ariyah adalah ciptaan Tuhan, bukan diciptakan oleh manusia itu sendiri. Untuk mewujudkan suatu perbuatan, manusia membutuhkan dua daya,  yaitu daya Tuhan dan daya manusia.
c)    Tentang orang yang berdosa besar, menurut beliau mereka adalah tetap mukmin karena keimananya masih ada, tetapi karena dosa besarnya itu menjadikan ia seorang yang fasiq.
d)   Semua orang yang berijtihad adalah benar. Sekalipun beliau telah meninggalkan faham Mu’tazilah tak serta merta menentang kebebasan manusia untuk berfikir. Sahabat pasca Rasulullah wafat juga melakukan hal-hal yang tidak pernah Rasulullah lakukan, meski demikian mereka tidak disebut orang bid’ah. Tetapi beliau membenci orang-orang berlebih-lebihan mengagungkan akal-fikiran. Akan tetapi beliau menggunakan akal menjadi penguat nas-nas (al Qur’an-hadis).

Tokoh-Tokoh Faham Asy’ariyah
1.    Al baqillany ( wafat 403 H/ 1013 M). Nama lengkap beliau Abu Bakar Muhammad bin Tayyib.
2.    Al Juwainy (419-478 H/ 1028-1088 M). Bernama Abu al Ma’aly bin Abdullah, dilahirkan di Naisabur.
3.    Al Gazali (450-505 H). Beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Gazali, dilahirkan di kota Tus.
4.    As Sanusy (833-895 H/ 1527-1490 M). Nama beliau Abu Abdillah Muhammada bin Yusuf, dilahirkan di kota Tilimsan, Aljazair.

Karya Asy’ari
Beliau meninggalkan karangan-karangan kurang lebih 90 buah. Dan yang terkenal ada tiga yaitu:
v Maqalat al Islamiyah (pendapat-pendapat golongan-golongan Islam). Kitab tersebut dibagi tiga, pertama berisi pendapat bermacam-macam golongan Islam, kedua tentang pendirian ahli Hadis dan Sunnah dan ketiga tentang bermacam-macam persoalan ilmu kalam.

v Al ibanah ‘an Ushulud Diyanah ( keteranga tentang dasar-dasar agama). Berisi uraian tentang kepercayaan ahli Sunnah dan dimulainya denga memuji Ahmad bin Hanbal dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya
v Al Luma’ (Sorotan).

Faham al Maturidiyyah
Pendiri faham Maturidiyah adalah Muhammad bin Muhammad Abu Mansur. Dilahirkan di kta Samarkand pada pertengahan kedua abad ke sembilan masehi dan meninggal tahun 332H/ 944 M.
Maturidi hidup semasa dengan Asy’ari hanya berbeda tempat. Keduanya sama menentang Mu’tazilah. Asy’ari bermazhab Syafi’i sedang Maturidi bermazhab Hanafi. Pendapat keduanya hampir sama atau berdekatan  tetapi tidak sama. Sehingga Muhammad Abduh mengatakan bahwa soal-soal yang diperselisihkan antara keduanya tidak lebih dari 10 soal yang kesemuanya ridak terlalu mendasar dan hanya perbedaan istilah. Selain karena persamaan lawan tersebut, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu membela kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam al Qur’an.
Perbedaan keduanya nampak pada persoalan berikut:
·      Faham asy’ariyah berpendapat bahwa mengetahui Tuhan  diwajibkan syara’ sedang menurut Maturidiyah diwajibkan akal.
·      Menurut faham Asy’ariyah sesuatu perbuatan tidak mempunyai sifat baik dan buruk. Baik dan buruk tidak lain karena diperintahkan syara’ atau dilarangnya. Maturidiyah berpendapat pada tiap-tiap perbuatan itu sendiri ada sifat baik dan sifat-sifat buruk.
Dengan demikian Maturidiyah lebih mendekati golongan Mu’tazilah, karena beliau bermazhab Hanafi yang banyak memakai rasio.
Pemikiran Al Maturidi antara lain:
1.    Sifat Tuhan. Menurut pendapatnya Tuhan mempunyai sifat-sifat , Tuhan mengetahui bukan deng zatNya tetapi mengetahui dengan PengetahuanNya dan berkuasa bukan dengan zatNya.
2.    Perbuatan manusia. Beliau sependapat dengan Mu’tazilah, bahwa manusialah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
3.    AlQur’an. Tidak sepaham dengan Mu’tazilah yang mengatakan al Quran itu diciptakan.
4.    Soal dosa besar. Sepaham dengan Asy’ari yaitu orang yang berdosa besar tetap mukmin, dan soal dosa besarnya akan ditentukan Tuhan kelaj di akhirat.
Tokoh faham Maturidiyah antara lain adalah Abu al Yusr Muhammad al Bazdawi (421-493 H). Murid al Bazdawi Najm al Din Muhammad al Nasafi (460-537 H) pengarang buku al ‘Aqa’idal Nasafiyah. Dalam aliran Maturidiyah terdapat dua golongan, golongan Samarkand yaitu pengikut-pengkut al Maturidi sendiri dan golongan Bukhara yaitu pengikut-pengikut al Bazdawi. Golongan Samarkand berfaham lebih dekat pada faham Mu’tazilah sedang golongan Bukhara lebih dekat pada Asy’ari.
Karya al Maturidi antara lain Risalah Fi al ‘Aqa’id danSyarh al Fiqh al Akbar, Akitab Al Tawhid dan Ta’wil al Qur’an.

Kesimpulan
Faham Asy’ariyah dan faham Maturidiyah adalah dua faham yang muncul menanggapi faham dari Mu’tazilah yang tidak bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat Islam kebanyakan yang Mu’tazilah berlebihan menggunakan akal. Kedua faham ini berusaha mengembalikan pemahaman tauhid berdasarkan nas-nas yang ada, al Qur’an dan Hadis dengan akal sebagai penguat nas-nas tersebut.




DAFTAR PUSTAKA
Ahamd Hanafi, Theology Islam (Ilmu Kalam.  Bulan biuntang: Jakarta. 1986
Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan
Drs. H. Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam. Pustaka Setia: Bandung. 1998
           



0 komentar


seni kaligrafi

0 komentar

khat diwani

khat kufi
khat riq'ah