Featured Post 1 with Small Thumbnail
Featured Post 2 with Small Thumbnail
Featured Post 3 with Small Thumbnail
Featured Post 4 with Small Thumbnail
Title Featured Post 1
Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros...More
Title Featured Post 2
Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam...More
Title Featured Post 3
Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros...More
Title Featured Post 4
Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam...More
teknokrasi
filsafat
KEBUDAYAAN, TEKNOLOGI DAN TEKNOKRASI
KEBUDAYAAN, TEKNOLOGI DAN TEKNOKRASI
A.
Risuman
Fuad Hasan yang membahas mengenai
kebudayaan, teknologi dan teknokrasi bahwa dalam era kontemporer, orang tidak
bisa menghindar dari kenyataan bahwa pesatnya perkembangan teknologi semakin
terasa dampaknya sebagai daya yang memasuki berbagai bidang kehidupan, dan
sejalan dengan kenyataan itu timbul pula berbagai tantangan dan tuntutan baru
terhadap kehidupan masyarakat modern. Teknologi semakin cenderung ditonjuolkan
sebagai tolak ukur untuk menilai sejauh mana tingkat modernisasi yang telah
dicapai oleh suatu masyarakat, bahkan bisa dikatakan bahwa dewasa ini gejala
kecendrungan glorifikasi terhadap teknologi semakin kuat. Dalam
perkembangannya, teknologi dapat membuktikan kesanggupannya sebagai
perpanjangan kemampuan manusia, baik untuk dimanfaatkan secara konstruktif maupun digunakan untuk tujuan destruktif.
Sebagai perpanjangan kemampuan manusia
teknologi bisa menjadikan apa yang pada awalnya merupakan minus dari
kemampuannya (ability) menjadi surplus bagi kesanggupannya (capability).
Menurut fitrahnya, manusia tidak mampu terbang, namun dengan teknologi sebagai
perpanjangannya dia bisa terbang, bahkan tinggal beberapa lama di angkasa luar,
pertemuan tatap muka (face to face) juga dapat dilaksanakan dalam jarak yang
amat jauh melalui tatap-citra (image to image). Ini merupakan ilustrasi yang
menunjukkan betapa teknologi telah memungkinkan terjadinya transformasi
mendasar dan berskala luas dalam kehidupan manusia.
Kemajuan teknologi juga merubah ruang
dan waktu secara kualitatif dan kuantitatif. Terutama oleh faktor percepatan
(speed) dan kekuatan (power). Yang pengaruhnya mencuat dalam perkembangan
teknologi, transfortasi serta komunikasi dan informasi. Implikasi kemajuan
teknologi berbeda dengan perkembangan ilmu. dalam bidang ilmu, suatu tesis baru
tidak dengan sendirinya berarti menggagalkan keabsahan atau berlakunya tesis
lama. Sekalipun dirumuskan sebagai anti tesis. Begitu pula dengan teori baru
tidak harus berarti usangnya teori lama meskipun disajikan sebagai kontra
teori. Ilmu berkembang tanpa harus saling mengusangkan keabsahan tesis atau
teori pendukungnya masing-masing, tetapi bisa berlangsung sebagai kesejajaran,
saling melengkapi atau bahkan saling bertentangan. Sedangkan kemajuan teknologi
ditandai oleh susul menyusulnya proses pemutakhiran dan pengusangan. Setiap
kali teknologi dimutakhirkan ia selalu membawa konsekuensi dianggap usangnya
pendahulunya. Meskipun rentang hidupnya (life-cycle) berbeda-beda, namun setiap
teknologi mutakhir (up to date) akan menjadikan pendahulunya tertinggal
(out-of-date) dan akhirnya usang (obsolete).
Sebagai daya yang terus menerus maju
dengan pemutakhiran, akhirnya teknologi tampil sebagai kekuatan (kratos) yang
dominan dalam kehidupan modern dan pasca-modern. Teknologi yang mulanya
diciptakan sebagai perpanjangan kemampuan manusia, lambat laun berbalik
menjadikan manusia sebagai perpanjangannya. Apalagi oleh makin bertambahnya
ketergantungan manusia pada penyrtaan teknologi dalam berbagai bidang
kehidupannya. Dominasi teknologi sebagai kekuatan yang makin berpengaruh dalam
mengendalikan peri kehidupan manusia dan kemanusiaan itu oleh sejumlah filsuf
akhir abad ini disebut sebagai gejala teknokrasi. Teknokrasi membawa berbagai
konsekuensi terhadap kehidupan manusia umumnya, secara individual maupun
kolektif. Berubahnya pola interaksi antar manusia dimungkinkan oleh intervensi
peralatan, pola kerja pun berubah oleh dimungkinkannya substitusi unsur manusia
oleh mesin.
Dalam era modernisme dan pasca
modernisme, kehadiran teknologi tidak mungkin ditangkal, kecuali dengan akibat
ketertinggalan yang pada gilirannya akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin
meluas.
Dalam hal ini, teknologi dan teknokrasi
akan membawa berlanjut dengan berseminya budaya baru yang melahirkan berbagai
pola interaksi dengan selamanya. Teknologi dan teknokrasi juga membangkitkan
proses kultural dalam masyarakat yang diterpanya. Yang menjadi masalah ialah
sejauh mana suatu masyarakat siap memasuki zaman yang ditandai oleh supermasi
teknologi dan teknokrasi sebagai day ape,bangkit budaya baru tanpa merapuhkan
ketahanan budayanya sendiri.
Sejalan dengan dominasi bahkan
glorifikasi teknologi cenderung muncul budaya baru, maka bidang yang sangat
penting pengaruhnya dalam hubungan ini adalah peran teknologi, transfortasi
serta komunikasi dan informasi. Melalui bidang-bidang ini meningkatlahn
pertemuan antar budaya. Namun, pertemuan antar budaya yang seharusnya menjadi
kesempatan saling pengayaan wawasan pihak-pihak yang saling bertemu, pada
kenyataanya dewasa ini lebih berlangsug sebagai arus satu arah. Sulit sekali
untuk membendung derasnya arus informasi dari pusat-pusat global dengan
dukungan teknologi canggih dalam bidang transfortasi serta komunikasi dan
informasi. Jelas kiranya bahwa arus informasi yang menerpa secara bertubi-tubi
itu akhirnya juga merupakan suatu proses pembudayaan.
Proses kebudayaan yang menerpa secara
bertubi-tubi dan sepihak itu niscaya pada saatnya akan menghentakkan kesadaran
mereka yang terhanyut olehnya untuk berusaha menggali dan menemukan kembali
makna kesejatian eksistensi sebagai manusia. uraian di atas mungkin memberi
kesan setiap negative terhadap teknologi dan teknokrasi dalam peri kehidupan
manusia dan masyarakat. Kesan itu perlu dibenahi. Tujuan penyajian berbagai konsekuensi
dari dominasi teknologi dan menguatnya gejala teknokrasi ialah agar kita
tidak mudah terseret oleh sikap
glorifikasi terhadap teknologi dan hasrat untuk serta merta menerapkannya. Dan
yang paling penting adalah sejauh mana kesiapan masyarakat untuk
memanfaatkannya secara efektif dan efesien pada derajat se-optimal mungkin.
Betapapun majunya teknologi sebagai hasil karya manusia adalah perpanjangan
bagi kemampuannya bukan sebaliknya, menjadikan manusia sebagai perpanjangannya.
Manusia adalah pusat orientasi bagi dirinya, maka nilai-nilai kemanusiaan harus
senantiasa diunggulkan di atas teknologi yang notabennya merupakan hasil
ciptaannya sendiri.
B.
Komentar
Pada masa sekarang,
perkembangan teknologi yang sangat maju pesat menimbulkan dampak yang positif
dan juga negatif. Bapak Fuad Hasan dalam pidato Kebudayaan tersebut mengulas
tentang apa yang dirasakan sebagai dampak dari perkembangan kemajuan teknologi
yang amat pesat itu, yang kemajuannya tak dapat ditangkal-tangkal.
Beliau mengatakan teknologi cenderung
ditonjolkan sebagai tolak ukur untuk menilai sejauh mana tingkat modernisasi
yang telah dicapai oleh sesuatu masyarakat. Begitu eratnya keterjalinan antara
manusia dan teknologi sebagai perpanjangan kemampuannya, sehingga apa yang
asalnya merupakan minus dari kemampuannya bisa berkembang menjadi surplus bagi
kesanggupannya. Dari kata-kata beliau tersebut dapat dipahami bahwa yang pada
mulanya kemampuan manusia itu terbatas kemudian dia dapat mengembangkan
kemampuannya sehingga kemudian apa yang menjadi kekurangannya (keterbatasannya)
sebagai kelebihannya. Dengan memberikan penjelasan analoginya dengan manusia
tidak mampu terbang, namun dengan adanya
teknologi
dia mampu terbang bahkan dapat berlama-lama di angkasa, seperti face to face,
image to image dan lainnya.
Ruang dan waktu tak lagi menjadi
batasan. Adanya faktor kekuatan (power) dan kecepatan menjadi alasan
memutakhirkan teknologi termasuk dalam perkembangan teknologi transportasi,
serta komunikasi dan informasi. Satu contohnya internet membuka pintu
keterbukaan dalam arti luas, keterbuakaan memperoleh dan menyebarkan informasi
untuk berbagai kepentingan.
Kemajuan teknologi dapat merubah pola
interaksi seseorang, menyempitkan dunia pergaulan sosialnya, selain itu menurut
beliau, membanjirnya informasi yang tak terbendung menyebabkan seseorang tidak
mampu menyimpan informasi itu atau mengulangnya kembali kecuali dengan
kecanggihan dari teknologi lainnya.
Teknologi membuat kesan atau
kecenderungan akan disamakannya kemampuan otak manusia dengan komputer yang
sebenarnya adalah buatan manusia. Kemajuan tersebut memaksa seseorang untuk
dapat dengan segera menguasai teknologi jika tidak mau ketinggalan. Dengan kata
lain siapa tidak mampu mengikuti kemajuan itu dia akan tertinggal. Akibat dari
kemajuan teknologi berbeda dengan kemajuan ilmu. Di mana majunya suatu
teknologi baru dapat membuata teknologi sebelumnya usang atau tak laku.
Gejala teknokrasi timbul ketika
pandangan hidup, gaya hidup seseoarang yang sangat dipengaruhi oleh teknologi
atau berubahnya kebudayaan suatu masyarakat yang dipengaruhi oleh teknologi.
Sebagai contoh berubahnya pola interkasi dengan menggunakan teknologi yang
dulunya dapat saling bertemu secara langsung sekarang dapat saling bertemu
sekalipun di tempat yang berbeda. Pola kerja pun berubah sangat modern dengan
teknologi sekali lagi dapat menyelesaikan hubungan kesepakatan kerja tanpa
saling bertemu secara langsung dengan teknologi.
Ada beberapa konsekuensi dari majunya
teknologi disertai dengan menguatnya teknokrasi sebagai kelanjutannya adalah
ketertinggalan. Ketertinggalan tersebut dapat menjadi pendinding atau
kesenjangan yang besar. Masyarakat mau tidak mau harus mengikuti perubahan
teknologi yang mempengaruhi kehidupannnya. Secara tidak sengaja masyarakat itu
sendiri telah mebuat suatu budaya baru. Yang menjadi masalah adalah kesiapan
dari masyarakat itu sendiri menghadapi lajunya perkembangan teknologi dan
teknokrasi dalam mempertahankan budayanya yang dulu.
Pak Fuad Hasan mengatakan bahwa dengan
semakin meningkatnya teknologi, tidak membuat budaya yang dulu mengabur akan
tetapi diharapkan dengan teknologi yang canggih itu dapat memberikan informasi
tentang kebudayaan dengan baik, memperkenalkan budaya lainnya secara
menyeluruh, pengetahuan tentang budaya lainnya tak lagi jadi sulit. Namun
sayangnya kemajuan itu tidak dimbangi dengan majunya kekayaan budaya
sebelumnya.
Dapat disimpulkan dari pemaparan beliau
adalah bahwa hendaknya laju peningkatan teknologi dan teknokrasi tidak
menghilangkan hakikat manusia yang tidak dapat hidup sendiri atau hakikat
manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa tidak berkomunikasi dengan yang
lainnya atau tidak menghilangkan keeksisan manusia yang selalu ingin
berkembang. Diharapkan kembali dapat menggunakan teknologi secara efektif dan berdaya
guna. Jangan sampai teknologi yang mulanya adalah untuk membantu memudahkan
kita dalam berbuat sesuatu menjadikan
kita yang diperbudak oleh teknologi tersebut.
Bagaimanapun juga manusia yang eksis mengembangkan dirinya sendiri, bukan
manusia yang tidak berfikir hanya mengambil informasi-informasi dari majunya
teknologi. Karena teknologi dapat mengakibatkan manusia hidup pragmatis, ingin
mudah tanpa berusaha. Khususnya dalam dunia pendidikan, dengan adanya teknologi
dapat membuat anak malas berfikir, kurangnya interaksi lahir batin antara murid
dan guru, melemahkan perkembangan berfikir anak, parahnya mungkin ada istilah
‘copy-paste’ dalam pendidikan. Itu hanya beberapa dari dampak majunya teknologi
yang tidak dapat dapat diimbangi dan menempatkannya sesuai kebutuhan.
Teknologi pada mulanya adalah sarana
untuk memudahkan kita dalam berbuat sesuatu tidak dapat dijadikan alasan umum
menyelesaikan sesuatu itu hanya dengan teknologi. Teknologi yang tak dapat
diimbangi dapat membuat interaksi antar masyarakat sosialnya berubah, perasaan
batin manusia berkurang, selain itu dapat menjadikan perubahan kedudukan
manusia seperti mesin.
GLOSARIUM
asy'ari dan maturidiyah
SEJARAH
RINGKAS FAHAM AL ASY’ARIYAH DAN AL MATURIDIYYAH SERTA AJARANNYA
Faham Asy’ariyah
Asy’ariyah adalah salah satu aliran dalam teologi yang
namanya dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Hasan Ali bin Ismail Al
Asy’ari. Beliau lahir di kota Basrah pada tahun 280 H/873 M wafat pada tahun
324H/935 M dan merupakan keturunan sahabat besar Nabi yang bernama Abu Musa Al
Asy’ari.
Dalam belajar agama, ia mula-mula berguru kepada Abu
Ali Al Jubai salah seorang yang berfaham Mu’tazilah. Sebelumnya beliau
mengikuti jejak gurunya yang berfaham Mu’tazilah tersebut hingga usia 40 tahun.
Bisa dipastikan beliau sangat memahami dam menguasai faham kemu’tazilahan
tersebut bahkan beliau dipercaya oleh gurunya sebagai juru bicara debat tentang
faham tersebut kepada orang lain. Di kemudian hari beliau merasa tidak puas
dengan fahamnya dengan mempertimbangkan alasan-alasan faham Mu’tazilah dan
ulama-ulama fiqih dan ulama-ulama hadis. Sehingga ada riwayat mengatakan bahwa
beliau mengasingkan diri beberapa lama untuk memikirkan ajaran-ajaran
Mu’tazilah. Sesudah itu beliau keluar rumah, pergi ke mesjid dan naik mimbar
menyatakan:
“Hadirin sekalian, saya sdselam ini mengasingkan diri
untuk berfikir tentang keterangan-keterangan dan dalil yang diberikan
masing-masing golongan. Dalil-dalil yang diajukan, dalam penelitian saya, sama
kuatnya. Oleh karena itu saya meminta petunjuk dari Allah dan atas petnjuk-Nya
saya sekarang meninggalkan keyakinan-keyakinan lama dan menganut
keyakinan-keyakinan baru yang saya tulis dalam buku-buku ini.
Keyakinan-keyakinan lam saya lemparkan sebagaimana saya melemparkan baju ini”.
Perasaan ragu dalam benak Asy’ari menurut Ahmad Mahmud
Subhi karena beliau menganut mazhab Syafi’i. Imam Syafi’i mempunyai pendapat
teologi yang berbeda dengan Mu’tazilah, umpamanya Imam Syafi’i berpendapat
bahwa al Qur’an tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim dan bahwa Tuhan dapat
dilihat di akhirat nanti. Selain itu beliau juga menimbang-nimbang dalil dengan
mempelajari hadis-hadis.
Adapun pokok-pokok ajaran Asr’ariyah yang terpenting
antara lain adalah:
a) Sifat Tuhan
Menurut ajaran Asy’ariyah, Tuhan mempunyai sifat-sifat
sebagaimana di sebutkan di dalam al Qur’an, seperti Allah mengetahui dengan
ilmu, berkuasa dengan Qudrat , hidup
dengan Hayah dan seterusnya. Siifat-sifat
tersebut adalah azali, sifat-sifat itu bukanlah zat Tuhan bukan pula lain dari
zatnya.
b) Perbuatan manusia menurut aliran Asy’ariyah adalah ciptaan Tuhan, bukan
diciptakan oleh manusia itu sendiri. Untuk mewujudkan suatu perbuatan, manusia
membutuhkan dua daya, yaitu daya Tuhan
dan daya manusia.
c) Tentang orang yang berdosa besar, menurut beliau mereka adalah tetap
mukmin karena keimananya masih ada, tetapi karena dosa besarnya itu menjadikan
ia seorang yang fasiq.
d) Semua orang yang berijtihad adalah benar. Sekalipun beliau telah
meninggalkan faham Mu’tazilah tak serta merta menentang kebebasan manusia untuk
berfikir. Sahabat pasca Rasulullah wafat juga melakukan hal-hal yang tidak
pernah Rasulullah lakukan, meski demikian mereka tidak disebut orang bid’ah.
Tetapi beliau membenci orang-orang berlebih-lebihan mengagungkan akal-fikiran.
Akan tetapi beliau menggunakan akal menjadi penguat nas-nas (al Qur’an-hadis).
Tokoh-Tokoh Faham Asy’ariyah
1. Al baqillany ( wafat 403 H/ 1013 M). Nama lengkap beliau Abu Bakar
Muhammad bin Tayyib.
2. Al Juwainy (419-478 H/ 1028-1088 M). Bernama Abu al Ma’aly bin Abdullah,
dilahirkan di Naisabur.
3. Al Gazali (450-505 H). Beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al
Gazali, dilahirkan di kota Tus.
4. As Sanusy (833-895 H/ 1527-1490 M). Nama beliau Abu Abdillah Muhammada
bin Yusuf, dilahirkan di kota Tilimsan, Aljazair.
Karya Asy’ari
Beliau
meninggalkan karangan-karangan kurang lebih 90 buah. Dan yang terkenal ada tiga
yaitu:
v
Maqalat al Islamiyah (pendapat-pendapat
golongan-golongan Islam). Kitab tersebut dibagi tiga, pertama berisi pendapat
bermacam-macam golongan Islam, kedua tentang pendirian ahli Hadis dan Sunnah
dan ketiga tentang bermacam-macam persoalan ilmu kalam.
v
Al ibanah ‘an Ushulud Diyanah ( keteranga
tentang dasar-dasar agama). Berisi uraian tentang kepercayaan ahli Sunnah dan
dimulainya denga memuji Ahmad bin Hanbal dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya
v
Al Luma’ (Sorotan).
Faham al Maturidiyyah
Pendiri faham
Maturidiyah adalah Muhammad bin Muhammad Abu Mansur. Dilahirkan di kta
Samarkand pada pertengahan kedua abad ke sembilan masehi dan meninggal tahun
332H/ 944 M.
Maturidi
hidup semasa dengan Asy’ari hanya berbeda tempat. Keduanya sama menentang
Mu’tazilah. Asy’ari bermazhab Syafi’i sedang Maturidi bermazhab Hanafi.
Pendapat keduanya hampir sama atau berdekatan
tetapi tidak sama. Sehingga Muhammad Abduh mengatakan bahwa soal-soal
yang diperselisihkan antara keduanya tidak lebih dari 10 soal yang kesemuanya
ridak terlalu mendasar dan hanya perbedaan istilah. Selain karena persamaan
lawan tersebut, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu membela
kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam al Qur’an.
Perbedaan
keduanya nampak pada persoalan berikut:
·
Faham asy’ariyah berpendapat bahwa
mengetahui Tuhan diwajibkan syara’
sedang menurut Maturidiyah diwajibkan akal.
·
Menurut faham Asy’ariyah sesuatu perbuatan
tidak mempunyai sifat baik dan buruk. Baik dan buruk tidak lain karena
diperintahkan syara’ atau dilarangnya. Maturidiyah berpendapat pada tiap-tiap
perbuatan itu sendiri ada sifat baik dan sifat-sifat buruk.
Dengan
demikian Maturidiyah lebih mendekati golongan Mu’tazilah, karena beliau
bermazhab Hanafi yang banyak memakai rasio.
Pemikiran Al
Maturidi antara lain:
1. Sifat Tuhan. Menurut pendapatnya Tuhan mempunyai sifat-sifat , Tuhan
mengetahui bukan deng zatNya tetapi mengetahui dengan PengetahuanNya dan
berkuasa bukan dengan zatNya.
2. Perbuatan manusia. Beliau sependapat dengan Mu’tazilah, bahwa manusialah
sebenarnya yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
3. AlQur’an. Tidak sepaham dengan Mu’tazilah yang mengatakan al Quran itu
diciptakan.
4. Soal dosa besar. Sepaham dengan Asy’ari yaitu orang yang berdosa besar
tetap mukmin, dan soal dosa besarnya akan ditentukan Tuhan kelaj di akhirat.
Tokoh faham
Maturidiyah antara lain adalah Abu al Yusr Muhammad al Bazdawi (421-493 H).
Murid al Bazdawi Najm al Din Muhammad al Nasafi (460-537 H) pengarang buku al
‘Aqa’idal Nasafiyah. Dalam aliran Maturidiyah terdapat dua golongan, golongan
Samarkand yaitu pengikut-pengkut al Maturidi sendiri dan golongan Bukhara yaitu
pengikut-pengikut al Bazdawi. Golongan Samarkand berfaham lebih dekat pada
faham Mu’tazilah sedang golongan Bukhara lebih dekat pada Asy’ari.
Karya al
Maturidi antara lain Risalah Fi al ‘Aqa’id danSyarh al Fiqh al Akbar, Akitab Al
Tawhid dan Ta’wil al Qur’an.
Kesimpulan
Faham
Asy’ariyah dan faham Maturidiyah adalah dua faham yang muncul menanggapi faham
dari Mu’tazilah yang tidak bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat Islam
kebanyakan yang Mu’tazilah berlebihan menggunakan akal. Kedua faham ini
berusaha mengembalikan pemahaman tauhid berdasarkan nas-nas yang ada, al Qur’an
dan Hadis dengan akal sebagai penguat nas-nas tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ahamd Hanafi, Theology Islam (Ilmu Kalam. Bulan biuntang: Jakarta. 1986
Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa
Perbandingan
Drs. H. Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam. Pustaka Setia:
Bandung. 1998
TIGA HURUF hijaiyah
belajar menulis dan membaca
Huruf hijaiyah tiga huruf
Baris untuk huruf hijaiayah (menyambung
3 huruf)
dhommahtain
|
kasrahtain
|
fathahtain
|
Tasydid
|
sukun
|
dhommah
|
kasrah
|
fathah
|
اٌ
|
اٍ
|
اً
|
اَاْ
|
اُو
|
اِي
|
ءَا
|
|
un
|
In
|
an
|
-
|
A`
|
u
|
i
|
A
|
بُبُبٌ
|
بببٍ
|
بَبَبًا
|
بَبَّ
|
بَبْبَ
|
بُبُبُ
|
بببِ
|
بَبَبَ
|
Bu-bu-bun
|
Bi-bi-bin
|
Ba-ba-ban
|
Babba
|
Bab-ba
|
Bu-bu-bu
|
Bi-bi-bi
|
Ba-ba-ba
|
تتَتَ
|
|||||||
ثثث
|
ثثثَ
|
||||||
جَجَجًا
|
جَجََّ
|
جَجَجَ
|
|||||
حَحَحَ
|
|||||||
خَخَخَ
|
|||||||
دَدَدًا
|
دَدَدَ
|
||||||
ذذذ
|
|||||||
رَرَّ
|
رَرَرَ
|
||||||
زَزَزَ
|
|||||||
سَسَسَ
|
|||||||
شَشَّ
|
شَشَشَ
|
||||||
صَصَصَ
|
|||||||
ضَضَضَ
|
|||||||
ططط
|
|||||||
ظظظ
|
|||||||
عَعَّ
|
عَعَعََ
|
||||||
غَغَغَ
|
|||||||
فففَ
|
|||||||
قققَ
|
|||||||
كككَ
|
|||||||
لللَ
|
|||||||
مَمَمََ
|
|||||||
نَنَنَ
|
|||||||
وَوَوَ
|
|||||||
هَهََ
|
هَهَهََ
|
||||||
يَيَيَ
|
|||||||
Disusun oleh Miftahul Jannah untuk TPA Nurul `Ibad, Kurnia Landasan Ulin (Oktober 2014)
Langganan:
Postingan (Atom)
Search this blog
Popular Posts
-
FILSAFAT PRAGMATISME BAB I PENDAHULUAN Pada Akhir abad XIX atau memasuki abad XX di Amerika berkembang sebuah aliran filsafat yang be...
-
Huruf hijaiyah tanpa baris dibaca ditulis Dibaca ditulis dibaca ditulis dibac...
-
RELIABILITAS INSTRUMEN EVALUASI BAB I PENDAHULUAN Evaluasi pendidikan adalah proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidika...
-
SEJARAH RINGKAS FAHAM AL ASY’ARIYAH DAN AL MATURIDIYYAH SERTA AJARANNYA Faham Asy’ariyah Asy’ariyah adalah salah satu aliran dalam teol...
-
belajar menulis dan membaca Huruf hijaiyah satu huruf (Huruf hijaiyah tanpa baris) dibaca ditulis Dibaca ditul...
-
belajar tulis dan baca Huruf hijaiyah dua huruf Sukses belajar menulis dan membaca huuruf hijaiyah satu baris, mari kita lanjutkan...
Mengenai Saya
Arsip Blog
Diberdayakan oleh Blogger.










